
Oleh : ALDRIYANTO
Dalam kehidupan zaman sekarang, seolah tidak terdapat batas yang jelas karena dengan adanya apa yang sering di sebut dengan globalisasi.Realita dari globalisasi ini terjadi gerakan di berbagai aspek kehidupan budaya.dimana antara budaya timur yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan sedangkan budaya barat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan individu,yang pada saat sekarang menemukan suatu titik temu yaitu beberapa persoalan social,dan nilai-nilai adat ketimuran yang semakin luntur dengan tingkat keprihatinan yang cukup tinggi,oleh karena itu perlu adanya sebuah filter yang kuat untuk menyaring atau mengadopsi budaya-budaya barat yang sekiranya cocok dengan adat ketimuran.
Namun sampai saat ini jika kita amati sudah terdapat perpindahan tolak ukur yaitu contoh kecilnya adalah seseorang yang dapat dikatakan idola adalah mereka yang menjadikan kebudayaan barat sebagai kiblatnya,bukan seseorang yang memiliki segudang ilmu serta berprestasi dan berbudi pekerti luhur bahkan orang yang seperti ini dia anggap jadul.
Longgarnya filter dalam menyaring budaya-budaya barat yang berakar pada sikap generasi muda yang hedonisme serta individualisme,mengakibatkan ternodanya budaya-budaya ketimuran yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan sehingga terjadi degradrasi mental serta etika dan ketidak tahuan akan budaya tanah air.
Seperti yang kita ketahui akibat dari globalisasi tersebut selain timbul masalah sosial adalah masalah budaya dimana para generasi muda yang notabenenya penerus bangsa,cenderung untuk menggali budaya-budaya barat yang menurut mereka lebih interest di banding dengan budaya tanah air atau budaya ketimuran.seperti tari-tarian daerah,musik-musik daerah dan budaya-budaya lain yang mencirikan negeri katulistiwa ini sehingga tidak mengenal akan budaya tanah air sendiri.
Kondisi di atas,di pengaruhi dengan tidak adanya keteladanan para pemimpin bangsa negeri ini yang tindak tanduknya mencerminkan jauh dari ketauladanan yang mencerminkan kebudayaan timur sehingga lambat laun generasi muda telah kehilangan panutan.Ini adalah kondisi nyata yang perlu adanya perubahan yang mengembalikan peran generasi tua sebagai panutan,acuaan,atau kiblat bagi generasi muda sebagai cikal bakal pemimpin massa depan yang bermatabat dan menjunjung tinggi nialai-nilai budaya ibu pertiwi.
Di sini posisis strategis mahasiswa sebagai agent of change yang selama ini telah terbukti dengan beberapa peristiwa 1928 (sumpah pemuda),1998 (reformasi). Memeiliki potensi besar untuk mengembangkan dan menjaga adat ketimuran serta menyaring budaya-budaya yang tidak sesuai dengan jati diri tanah air kita indonesia karena mahasiswa memiliki semangat dan ide-ide segar dan inovative dengan cara pandang yang segar serta kemurniaan dalam beridealis begitu pula dengan jajaran pemerintah dan masyarakat yang merupakan komponen bangsa sudah seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran sehingga adat kebudayaan ibu pertiwi tidak hilang dengan sendirinya.
